
Buku ini merupakan antologi delapan lakon hasil kurasi/penyuntingan LeLakon 2022 terhadap 64 naskah lakon karya 44 penulis (10 penulis di antaranya terbagi dalam 2 kolektif) yang berdomisili di 25 kota yang tersebar di 13 provinsi di Indonesia. LeLakon adalah platform kurasi dan penyuntingan lakon teater oleh Kalabuku, bertujuan menjaring, mendokumentasikan, menerbitkan, dan mendistribusikan lakon-lakon karya para penulis dan/atau pelaku teater Indonesia. Lakon-lakon dijaring melalui panggilan terbuka, dikurasi dan disunting oleh tim kurator/penyunting, lalu diterbitkan dan didistribusikan dalam bentuk buku antologi lakon. Dirancang sebagai platform dwitahunan di bawah payung Kalabuku, LeLakon menjalankan misi berkesinambungan dalam menjaga keberlanjutan penerbitan dan distribusi buku-buku antologi lakon yang dihasilkan. Kedelapan lakon dalam buku ini adalah Panen Anak (Manik Sukadana), Dari Dalam Tubuh (Udiarti), Tabuhan (Wulan Dewi Saraswati), Nirwana Pratima (Fajar Laksana), Muspra (I.B. Uttarayana), Batman di Atas Meja Makan, Ultraman Gendut, dan Propaganda Kelinci (Jody Dewatama), Peristiwa Makan Malam (Indri Dwi Lestari), dan Empelan, Banjir (Jong Santiasa Putra).
Kosmos Y-Z: 8 Lakon LeLakon 2022
Penulis: Manik Sukadana, Udiarti, Wulan Dewi Saraswati, Fajar Laksana, I.B. Uttarayana, Jody Dewatama, Indri Dwi Lestari, Jong Santiasa Putra
Penyunting: B.M. Anggana, Dewi Kharisma Michellia, Sahlan Mujtaba, Kadek Sonia Piscayanti, Ibed S. Yuga
Kalabuku, April 2023
xlviii + 307 hlm.; 13 cm x 19 cm
ISBN: 978-623-97070-5-7
Rp115.000
Buku ini terdiri dari empat naskah teater untuk remaja: Kudeta; Ah, Kamu ...!; Jalur 17; dan Ayahku Stroke tapi Nggak Mati. Beberapa naskah disajikan dengan menyertakan proses dan langkah demi langkah penulisannya, seperti premis, sinopsis, treatment, struktur naskah, dll., sehingga buku ini bukan hanya menyajikan naskah teater, tetapi juga pengetahuan bagaimana menulis naskah teater. Variasi tema mewarnai empat naskah teater remaja dalam buku ini; mulai dari posisi sosial remaja dalam keluarga dan masyarakat, fotografi dan keintiman, uang saku sebagai alat kontrol remaja, hingga politik dan solidaritas di sekolah. Ruang gerak remaja diperluas, bukan hanya sekolah, melainkan juga rumah dan keluarga, serta ruang publik. Semua ditulis dalam gaya dan pijakan kehidupan sehari-hari (everyday life studies) untuk mengembangkan model pertunjukan, terutama dengan basis realisme. Hasilnya, tentu sudah bukan realisme itu sendiri, tetapi lintas dramaturgi.
Ayahku Stroke tapi Nggak Mati: Empat Naskah Teater Remaja
Penulis: Joned Suryatmoko
Kalabuku, Agustus 2022
xii + 186 hlm.; 13 cm x 19 cm
ISBN: 978-623-97070-4-0
Softcover Rp77.000
Hardcover Rp127.000
Pada 8 Maret 2022, Kalanari Theatre Movement menapak satu dekade usianya. Apa yang bisa dicatat dari satu dekade gerak Kalanari yang mendaku diri sebagai lembaga pergerakan budaya melalui kerja-kerja teater ini? Buku ini berusaha merengkuh dan memetakan berbagai jejak-tertulis yang berserak dan beberapa tulisan baru. Ia diharapkan menjadi medan untuk memformulasi berbagai wacana dan pengetahuan yang beroperasi dalam kerja-kerja Kalanari selama satu dekade. Ditulis oleh 29 penulis dengan keragaman pengalaman kepenulisan dan sudut pandang tulisan, buku ini berniat untuk memberikan ruang seluas mungkin bagi suara-suara dari berbagai lini yang selama ini bersentuhan dan/atau terlibat dengan Kalanari; dan harapannya juga berguna bagi teater Indonesia.
Teater/Intimasi: Satu Dekade Kalanari Theatre Movement
Penulis: Afrizal Malna, Andika Ananda, Aryo Wisanggeni G., Assabti Nur Hudan, Bambang Paningron, Barbara Hatley, Benny Yohanes, Cucum Cantini, Eko Santosa, Gandez Imroatus Sholihah, Gunawan Maryanto, Hartmantyo Pradigto Utomo, Hendromasto Prasetyo, Ibed S. Yuga, Indra Tranggono, Jenar Kidjing, Joned Suryatmoko, Lono Simatupang, M. Dinu Imansyah, Mailani Sumelang, Mathori Brilyan, Michael H.B. Raditya, Okta Firmansyah, Riyadhus Shalihin, Rosalia Novia Ariswari, Sarinah, Shinta Maharani, Tita Dian Wulansari, Wayan Agus Wiratama
Penyunting: Andika Ananda, M. Dinu Imansyah, Ibed S. Yuga
Kalabuku, Maret 2022
xiv + 387 hlm.; 14 cm x 20,5 cm
ISBN: 978-623-97070-3-3
Tidak dikomersialkan, bisa diperoleh dengan mengganti biaya produksi (donasi) minimal Rp85.000
Budi Ros adalah seorang storyteller sejati, baik melalui seni peran maupun lewat tulisan. Akting-aktingnya di atas panggung Teater Koma dan Wayang Tavip membuktikan hal yang pertama, sedang 27 lakon monolog dalam buku ini membuktikan yang kedua. Sebagai penulis lakon sekaligus storyteller, ia sangat percaya dengan kekuatan cerita, mafhum akan daya hadir narasi. Monolog-monolognya sangat lempeng dengan cerita, mulai dari tema intrik politik, korupsi, problem sosial, lingkungan hidup, isu keluarga, desa-kota, hingga asmara. Monolog-monolog ini tidak cerewet dengan teks petunjuk pemanggungan. Aksi bagi Budi Ros adalah perwujudan dari narasi; dan aksi adalah urusan pemeran, sedang naskah lakon adalah penyuplai cerita beserta kekuatannya. Buku ini hadir spesial dengan pengantar dari N. Riantiarno serta dilengkapi dengan desain skenografi (karya Idries Pulungan) untuk setiap lakon monolog. Terbit dalam dua edisi: desain skenografi yang dicetak berwarna dan hitam-putih.
Lugu Kayu Bakar: 27 Monolog
Penulis: Budi Ros
Pengantar: N. Riantiarno
Kalabuku, Januari 2022
xiv + 296 hlm.; 14 cm x 20,5 cm
ISBN: 978-623-97070-2-6
Edisi berwarna Rp142.000
Edisi hitam-putih Rp105.000
Ada 11 lakon teater pendek dalam buku ini, yang jika dipentaskan, kiranya berdurasi 30-40 menit. Lakon-lakon ini ditulis oleh 11 penulis muda yang tergabung dalam LaboLakon 2021, sebuah laboratorium bersama untuk penulisan lakon teater yang diinisiasi dan difasilitasi oleh Kalabuku. Melalui forum kajian kritis, eksperimen, dan diskusi dalam LaboLakon, proses penulisan lakon-lakon ini dilakukan secara paralel dengan pengkajian dan pengujian metode penulisan lakon yang ditawarkan Lajos Egri dalam The Art of Dramatic Writing. Dengan demikian, kesebelas lakon dalam buku ini ditulis dengan menggunakan dan/atau menolak metode yang ditawarkan oleh Lajos Egri tersebut.
Protozoa dari Mulut Egri: 11 Lakon LaboLakon 2021
Penulis: AM. Alhamdany, Amalia Rizqi Fitriani, Ego Heriyanto, Eko B. Saputro, Gilang Alamsyah, Gladhys Elliona, Muhamad Habib Koesnady, Nataya Bagya, Said Riyadi Abdii, Wayan Agus Wiratama, Wulan Dewi Saraswati
Penyunting: Ibed S. Yuga
Kalabuku, Desember 2021
xviii + 235 hlm.; 13 cm x 19 cm
ISBN: 978-623-97070-1-9
Rp90.000
Lakon ini adalah kelindan dari berbagai perkara yang berkait erat dengan biografi penulisnya: sebuah dusun di pegunungan Bali bagian barat, kuburan massal korban peristiwa 1965 yang dibongkar pada 25 Oktober 2015, mantan penari janger sekaligus bintang panggung kampanye-kampanye PKI, pemilihan kepala daerah 2015, judi sabung ayam dan tabuh rah, sepasang hantu tanpa kepala yang berumah di pohon beringin tua, pisau belati berumur 50 tahun lebih .... Janger Merah yang terbit dalam buku tersendiri ini adalah versi baru dari versi yang telah beredar sebelumnya, baik dalam bentuk fotokopian, berkas digital, buku kumpulan lakon, maupun terjemahannya sebagai Red Janger. Perubahan dilakukan penulis pada beberapa bagian sehingga cenderung lebih naratif dan imajinatif; serta membuka ruang-ruang interpretasi baru, baik dalam pembacaannya sebagai teks-bacaan maupun teks-panggung. Buku ini diganjar Penghargaan Sastra Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, 2021.
Janger Merah
Penulis: Ibed S. Yuga
Kalabuku, Juli 2021
vi + 65 hlm.; 13 cm x 19 cm
ISBN: 978-623-97070-0-2
Rp50.000

Buku ini merupakan antologi 10 lakon hasil kurasi LeLakon 2020 terhadap 178 lakon karya 109 penulis dari 19 provinsi. Menariknya, kesepuluh lakon dalam buku ini tersimpul dalam sebuah kata kunci: rasa—baik dalam arti flavor, taste, feel, maupun sense. Dalam masing-masing lakon, rasa menemukan konteks maknanya secara spesifik maupun komprehensif, juga mencipta jejaring serta tenunan dengan berbagai tema, ide, dan kecenderungan dramaturgis. Kesepuluh lakon dalam buku ini adalah: Bis Malam (Kolektif Kaleng Merah Jambu), Cinta dalam Sepotong Tahu (Agnes Christina), Elliot (Dyah Ayu Setyorini), Jangkar Babu Sangkar Madu (Verry Handayani, dkk.), Lidah (Luna Vidya), Manufaktur Anatomi Kera (Gulang Satriya Pangarso), Mata Air Mata (Bambang Prihadi), Nuning Bacok (Andy Sri Wahyudi), Perempuan dan Panci Nasi (Nurul Inayah), dan Rarudan (Wayan Sumahardika). Tim kurator sekaligus penyunting buku ini terdiri dari Muhammad Abe, Shinta Febriany, Brigitta Isabella, Riyadhus Salihin, dan Ibed S. Yuga. LeLakon sendiri adalah sebuah platform kurasi lakon teater oleh Kalabuku dengan tujuan menjaring, mendokumentasikan, dan menyebarkan lakon-lakon karya para penulis dan/atau pelaku teater Indonesia.
Dramaturgi Rasa: 10 Lakon LeLakon 2020
Penulis: Nurul Inayah, Kolektif Kaleng Merah Jambu, Agnes Christina, Andy Sri Wahyudi, Gulang Satriya Pangarso, Wayan Sumahardika, Verry Handayani, dkk., Bambang Prihadi, Luna Vidya, Dyah Ayu Setyorini
Penyunting: Muhammad Abe, Shinta Febriany, Brigitta Isabella, Riyadhus Salihin, Ibed S. Yuga
Kalabuku, Desember 2020
xxxviii + 339 hlm.; 14 cm x 20,5 cm
ISBN: 978-602-51654-9-8
Rp120.000
Six plays by six playwrights from six countries in Asia: Taxi Radio by Nophand Boonyai (Thailand), The Happiness of Nelson (and of Others Too) by Guelan Varela-Luarca (Philipines), Plunge by Jean Tay (Singapore), Red Janger by Ibed Surgana Yuga (Indonesia), Necrotopia by Ridhwan Saidi (Malaysia), Girl X by Suguru Yamamoto (Japan). Asian Playwrights Meeting was first held in Tokyo, Japan in 2009, and then in Melbourne, Australia in 2013. After 6 years hiatus, Asian Playwrights Meeting is launched again on July, 26-29 in Yogyakarta, Indonesia, organized and hosted by Indonesia Dramatic Reading Festival (IDRF), The meeting in Yogyakarta consists of panel discussions and public reading of the plays.
States of Crisis: Collection from Asian Playwrights Meeting 2019
Authors: Nophand Boonyai, Guelan Varela-Luarca, Jean Tay, Ibed Surgana Yuga, Ridhwan Saidi, Suguru Yamamoto
Tanslators: Andy Fuller, M. Dinu Imansyah, Alfian Sa’at, Yui Terada
Prologue: Muhammad Abe
Epilogue: Aya Ogawa
Language: English
Kalabuku, July 2020
xii + 282; 14 cm x 20,5 cm
ISBN: 978-602-51654-7-4
To get your own copy of the book, please donate at least Rp60.000 per book to fund the next Asian Playwrights Meeting and Indonesia Dramatic Reading Festival.
Karya klasik Lajos Egri ini menawarkan prinsip-prinsip seni menulis lakon teater melalui pemecahan rahasia konstruksi lakon. Membedah lakon luar-dalam, Egri memulai tepat pada jantung lakon: watak! Bagi Egri, penulisan lakon yang baik selalu bergantung pada pemahaman yang mendalam terhadap motif-motif perilaku manusia. Prinsip-prinsip Egri bukan hanya bisa diterapkan dalam penulisan lakon teater, namun juga novel, cerpen dan skenario film.
The Art of Dramatic Writing: Seni Menulis Lakon Teater
Sebuah lakon yang memaparkan represi kuasa terhadap kebebasan bersuara masyarakat dari masa ke masa; dipentaskan oleh Teater SAE pada 1991, dan menjadi salah satu karya Teater SAE yang banyak dibicarakan para kritikus teater di dalam dan luar Indonesia. Penulisnya menyebut lakon ini seperti sebuah "teater-buku" yang adegan-adegannya mengandung kutipan-kutipan teks pendapat Sukarno tentang pers, pidato Hatta, Sandhyakala ning Majapahit Sanoesi Pane, Caligula Albert Camus, serta lagu karya Franky Sahilatua. Semuanya berkelindan bersama sepasang suami-istri muda, ranjang, meja makan, kipas angin, matahari, koran, siaran radio, sepeda, lonceng, setrika, pelayan, pedagang koran ....
Pertumbuhan di Atas Meja Makan
Pada 15 Desember 1969, Giuseppe Pinelli, seorang anarkis dan pegawai jawatan kereta api, mati “terjatuh” dari jendela lantai empat markas kepolisian di Milan. Kepolisian mengatakan Pinelli sengaja bunuh diri saat diinterogasi atas dugaan pengeboman di stasiun kereta api. Namun kemudian muncul bukti-bukti yang menyatakan bahwa Pinelli sengaja dibunuh oleh pihak kepolisian. Kejadian ini menambah ketegangan politik sayap kanan dan kiri di Italia, lalu menggugah Dario Fo—aktor dan penulis lakon beraliran kiri Italia—menulis sebuah lakon satire penuh gugatan: Morte accidentale di un anarchico. Lakon yang mengantar penulisnya meraih Nobel Sastra 1997 ini diterjemahkan langsung dari versi asal bahasa Italia, oleh Antonia Soriente dan Prasetyohadi, menjadi Anarkis Itu Mati Kebetulan.
Anarkis Itu Mati Kebetulan
Buku ini sebuah tapal batas antara teater dengan yang “sebelum-teater” dan yang “sesudah-teater”. Ia seperti waktu yang diterima lebih sebagai pembacaan daripada sebagai hitungan. Setelah sebuah pertunjukan teater usai, apakah yang “sebelum-teater” itu bukan teater dan yang “sesudah-teater” itu juga bukan teater? Dalam tapal batas ini semacam kontinuitas baru tumbuh menjadi kesadaran, tidak terduga, sedikit terduga, kadang tak terjamah dalam membaca yang hadir dan yang baru saja kita alami.
Teater Kedua: Antologi Tubuh dan Kata
Penulis: Afrizal Malna
Kalabuku, April 2019
xxviii + 617 hlm.; 14 cm x 21 cm
ISBN: 978-602-19352-5-5
Rp185.000

Eugène Ionesco, sebagai salah satu eksponen Teater Absurd Prancis, sering diidentifikasi sebagai pengikut filsafat eksistensialisme, terutama lewat Sartre dan Camus. Padahal, Ionesco menolak Sartre; walaupun ia menghormati Camus setinggi-tingginya. Ionesco juga menolak beberapa kajian kritikus terhadap lakon-lakon karyanya. Sang Pemimpin dan Masa Depan Ada dalam Telur ini memuat dua lakon pendek karya Ionesco: Sang Pemimpin dan Masa Depan Ada dalam Telur atau Dibutuhkan Segala Hal untuk Membuat Sebuah Dunia. Dalam Sang Pemimpin kita bisa membaca absurditas para pemuja pemimpin yang pada dasarnya adalah pemimpin yang dibayangkan. Sedang Masa Depan Ada dalam Telur mencoba meletakkan makna bangsa dalam sebuah keluarga, di mana produksi harus terus dijalankan untuk menjaga peradaban industri, yang notabene mengabaikan makna keluarga (baca: bangsa) dan manusia itu sendiri. Diterbitkan menjelang pemilu, diharapkan bukan hanya lakon Sang Pemimpin yang akan memberi impresi artikulatif yang lebih dalam, namun semoga juga Masa Depan Ada dalam Telur bisa menyumbangkan resonansi wacana yang cukup luas tentang masa depan peradaban sebuah bangsa dan negara. Buku ini dipungkasi dengan wawancara Richard Schechner dengan Ionesco. Schechner, sang akademisi Performance Studies terkemuka itu, mencoba mengonfirmasi berbagai kajian terhadap lakon-lakon Ionesco, termasuk tentang hubungannya dengan filsafat eksistensialisme, Marxisme, hingga perkembangbiakan benda-benda. Buku ini secara resmi diluncurkan Kalabuku pada 28 Maret 2019, guna memperingati 25 tahun kematian Ionesco (28 Maret 1994).
Sang Pemimpin dan Masa Depan Ada dalam Telur: Dua Lakon Pendek
Penulis: Eugène Ionesco
Penerjemah: Ibed Surgana Yuga
Kalabuku, Maret 2019
Cetakan kedua: Januari 2026
120 hlm.; 10 cm x 14 cm
ISBN: 978-602-51654-3-6
Rp55.000
Hampir semua karya pertama Leo Tolstoy, di segala jenis karya tulis, selalu berhasil menjadi yang terkemuka. Hanya pada karya dramalah Tolstoy mengalami kegagalan pada usaha pertamanya. Namun selanjutnya, keberhasilan pun diraihnya dengan sangat cepat di jalur ini; sehingga keberhasilannya itulah yang justru mengejutkan, bukan kegagalannya. Diterjemahkan dari The Living Corpse, lakon Lelaki yang Mati ditulis Tolstoy berdasar fakta tentang campur tangan hukum yang tidak membawa kebaikan bagi siapa pun, dan justru merugikan semua pihak yang terlibat. Lakon ini adalah bagian yang tak terpisahkan dari teori non-resistan Tolstoy yang mengungkapkan bahwa pengadilan dan penyelenggaraan peradilan benar-benar berbahaya. Tolstoy mengakui bahwa Lelaki yang Mati dan Hadji Murad adalah dua karya terakhirnya yang paling berharga bagi dirinya sendiri. Ini adalah karya lakon pertama Tolstoy yang terbit dalam edisi bahasa Indonesia.
Lelaki yang Mati
Semacam panggung bagi para aktor teater (di dan luar) Jogja, buku ini berbicara dan berbagi tentang konsep, metode, serta proses keaktoran mereka melalui tulisan. Keberadaan kritik dan publikasi tentang teater di berbagai media, yang sangat jarang membahas sisi keaktoran, mesti diimbangi dengan publikasi catatan-catatan yang ditulis oleh para aktor sendiri. Adalah urgen bagi aktor untuk mengungkapkan, mendefinisikan sekaligus mengarsipkan konsep, metode serta proses keaktorannya dalam bentuk tulisan. Kerja penulisan semacam yang dilakukan para aktor dalam buku ini adalah sangat penting keberadaannya di tengah proses produksi pengetahuan dunia teater di Indonesia yang cenderung tersendat-sendat. Buku ini memuat catatan-catatan keaktoran dari 26 aktor.
Aku-Aktor: Konsep, Metode dan Proses Keaktoran di Yogyakarta
Penyunting: Ibed Surgana Yuga
Penulis: Agnes Christina, Tomomi Yokosuka, B. Verry Handayani, Febrinawan Prestianto, Ficky Tri Sanjaya, Beni Sanjaya, Jamaluddin Latif, Elyandra Widharta, B.M. Anggana, Alex Suhendra, Tita Dian Wulansari, BaBAM, Andika Ananda, Rendra Bagus Pamungkas, Siti Fauziah, Sulistyawati, Jamiatut Tarwiyah, Anton Fajri, Nesia Putri Amarasthi, Endah SR, Syahrini Andriyani, Rizal Iwan, Fajar Eka Putra
Kalabuku, Juni 2018
xii + 239 hlm.; 13 cm x 19 cm
ISBN: 978-602-19352-9-3
Rp90.000
Sebagai penulis teks dramatik (naskah teater), BenJon memiliki karakteristik yang unik. Ia terpukau pada kekerasan dan seksualitas, suka melanggar tabu dan kesantunan, serta banyak menyalahi kaidah bahasa konvensional. Ia menyebut teks-teksnya sebagai kisah antipoda, kisah bersuspensi, kisah yang membangun kontra-peta, serta narasi berganda. Buku ini memuat 10 teks dramatik yang ditulis BenJon tahun 2001-2017, yang tidak hanya menunjukkan panjangnya waktu penulisan, namun lebih sebagai wujud kewarna-warnian teks. Kesepuluh teks itu adalah TUBUH MELAYOE, EGG, ARKEologi BeHa, Shakespeare CARNIVORA, SPHINX TRIPLE X, BLACK JACK, CANNIBALOGY, interupsi jambal roti, PERTJA, dan TEKS MUTASI. Dalam buku ini BenJon juga banyak memaparkan konsep penulisan teks dramatiknya, termasuk konsep pemanggungannya, mengingat ia juga seorang sutradara andal.
Scum Sekam: Antologi Teks Dramatik
Penulis: Benny Yohanes
Kalabuku, April 2018
xii + 387 hlm.; 14 cm x 21 cm
ISBN: 978-602-19352-8-6
Rp125.000
Diterjemahkan dari Three Sisters, sebuah lakon tentang ilusi kebahagiaan sebuah keluarga yang kehilangan patron. Salah satu dari empat lakon besar karya Anton Chekhov ini ditulis khusus untuk produksi Moscow Art Theatre (MAT). Pertunjukan perdananya pada awal 1901 digawangi oleh duo sutradara MAT: Konstantin Stanislavski dan Vladimir Nemirovich-Danchenko. Tiga Saudari dalam buku ini hadir dengan epilog sebuah catatan proses dari Konstantin Stanislavski, mahaguru teater Rusia dan dunia, sutradara pertama yang menggarap lakon ini. Disertai pula dengan wacana dari editor yang mencoba melacak kembali jejak penulisan lakon ini, serta penggarapannya oleh MAT. Buku ini akan diluncurkan secara resmi oleh Kalabuku pada 31 Januari 2018, untuk memperingati pentas perdana lakon ini oleh MAT pada 117 tahun lalu: 31 Januari 1901.
Tiga Saudari
Buku ini adalah ruang kelindan bagi berbagai ide, cita-cita, konsep, metode, kritik, pengalaman, keberhasilan, kegagalan, juga keluh kesah dari para praktisi teater (di) Yogyakarta; jadi potret yang cukup jelas bagi wajah teater yang mereka usung hari ini. Terlepas dari keberadaan kritik dan publikasi di berbagai media, adalah urgen bagi para praktisi teater untuk mengungkapkan, mendefinisikan sekaligus mengarsipkan diri dalam bentuk tulisan, secara terus-menerus. Dan buku ini adalah manifestasi awal bagi urgensi tersebut.
Ideologi Teater: Gagasan dan Hasrat Teater Yogyakarta Hari Ini
Penyunting: Ikun Sri Kuncoro
Penulis: Ficky Tri Sanjaya, Abimanyu Prasastia Perdana, Joned Suryatmoko, Ahmad Jalidu, Ibed Surgana Yuga, Papermoon Puppet Theatre, Elyandra Widharta, Rukman Rosadi, Basundara Murba Anggana, Eko Santosa, Andy Sri Wahyudi, Agnes Christina, Irfanuddien Ghozali, Ikun Sri Kuncroro, Wahyana Giri MC, Forum Aktor Yogyakarta, Gunawan Maryanto
Kalabuku, November 2017
x + 200 hlm.; 13 cm x 19 cm
ISBN: 978-602-19352-7-9
Rp80.000