Biografi “Sang Pemimpin dan Masa Depan Ada dalam Telur”

EUGÈNE IONESCO 
Eugen Ionescu adalah nama yang diberikan orang tuanya, seorang ibu Protestan dan ayah Kristen Ortodoks. Ionesco lahir di Slatina, Romania, 26 November 1909. Beberapa sumber menulis ia lahir pada 1912. Ini adalah kesengajaan yang dibuat Ionesco karena ingin tanggal kelahirannya sama dengan tanggal kematian Ion Luca Caragiale, seorang penulis Romania idolanya. Masa kecil Ionesco lebih banyak dijalani di Paris bersama ibunya. Ia baru kembali ke Romania pada 1925, saat mana orang tuanya bercerai. Ayahnya dikenal selalu memihak pada kekuasaan, hal yang membuat Ionesco sering bersitegang dengannya. 

Di Romania, Ionesco kuliah bahasa dan sastra Prancis di University of Bucharest, dan setelah lulus ia bekerja sebagai guru di sebuah sekolah di Bucharest. Ada tiga peristiwa penting dalam hidupnya di Romania pada 1936: ia menikah dengan Rodica Burileanu, ibunya meninggal, dan untuk pertama kalinya ia turun ke jalanan Bucharest untuk berkonfrontasi dengan fasisme. Tahun 1939, dengan beasiswa dari pemerintah Romania, ia kembali ke Paris untuk menyelesaikan disertasi doktoralnya yang meneliti tentang dosa dan kematian dalam puisi-puisi Prancis sejak Baudelaire. Namun tesis ini tak pernah diselesaikannya. Di kemudian hari ketika telah dikenal sebagai penulis lakon, ia berkilah bahwa ia telah menyelesaikan disertasi dalam bentuk lakon teater. 

Eugène Ionesco, 1960-an.

Ionesco baru memulai kerja kepenulisan lakon pada 1948, ketika usianya 39 tahun. Sebelumnya, ia menulis puisi, cerpen dan kritik. Lakon pertamanya, The Bald Soprano, lahir dari pengalamannya belajar bahasa Inggris dengan metode menghafal kalimat lengkap dengan ekspresinya, yang mengantarnya pada pengalaman absurd, saat kalimat-kalimat meluncur sebagai omong kosong tanpa makna. Lakon ini adalah gambaran dari kehidupan manusia sebagai suatu keotomatisan, dan bahasa adalah pecahan-pecahan kalimat tanpa rasa; lakon yang disebutnya sebagai antilakon. “Betapa nikmatnya menghancurkan bahasa,” katanya dalam sebuah wawancara.   

Di masa kecilnya, Ionesco sangat membenci teater, karena baginya teater bergaya realis ketika itu tidak memberi penonton rasa dan kenikmatan terlibat. Karena itulah ia mengaku lebih memilih eks-presi teater yang melibatkan kebenaran imajinatif, sedang teater realis baginya hanya menyajikan kebenaran riil yang sempit. Pada 1958, sikapnya yang antirealisme, serta kebenciannya terhadap Brecht dan penganut Brechtian, mengantarnya pada debat tulisan yang sengit dengan Kenneth Tynan dalam The Observer, London. Para penganut Brechtian menuduhnya sebagai borjuis, sedang para borjuis menuduhnya sebagai orang yang menyimpang dan menyesatkan. Ionesco meninggal di Paris pada 28 Maret 1994, 30 tahun setelah ia dinominasikan se-bagai peraih Nobel Sastra. 

PENULIS WACANA KRITIKUS 
Richard Schechner adalah sutradara dan akademisi terkemuka Performance Studies. Ia dikenal lewat karya-karya pertunjukan interkultural dan interpretasi baru lakon-lakon karya penulis terkemuka, seperti Euripides, Seneca, William Shakespeare, Anton Chekhov, Sam Shepard, Bertolt Brecht, Jean Genet, dan lainnya. Baginya, lakon tidak ditulis, melainkan ditempa. Pada 1990-an, ia menginisiasi rasaboxes, sebuah teknik pelatihan emosi untuk performer. Beberapa bukunya yang terkenal: Environmental Theater (1973), Between Theater and Anthropology (1985), The Future of Ritual (1993), Performance Theory (2004), Performance Studies: An Introduction (edisi ketiga, 2013) dan Performed Imaginaries (2015). Kini Schechner adalah profesor emeritus di Tisch School of the Arts, New York University, dan editor TDR: The Drama Review, yang sebelumnya bernama Tulane Drama Review

PENERJEMAH 
Ibed Surgana Yuga adalah sutradara dan penulis lakon pada Kalanari Theatre Movement, serta editor Kalabuku. Buku-bukunya yang telah terbit: Bali Tanpa Bali (2008) dan Kintir: Sekumpulan Lakon Teater (2011). Karya-karya lakonnya juga termasuk dalam antologi lakon bersama: Perbuatan Serong (2011), Di Luar 5 Orang Aktor (2013), dan 10 Lakon Indonesia 2017 (2017). Ia juga menyunting buku Aku-Aktor: Konsep, Metode dan Proses Keaktoran di Yogyakarta (2018). Buku dua lakon pendek Ionesco ini adalah karya terjemahannya yang pertama. 

PELUKIS GAMBAR SAMPUL 
I Made Agus Darmika (Solar) adalah lulusan Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta (2017). Ikut tergabung dalam komunitas seni rupa Sanggar Dewata Indonesia (SDI). Kini tinggal di Yogyakarta.