Ibed Surgana Yuga

Saya lahir di Pancaseming, sebuah dusun pinggir hutan di Jembrana, Bali, pada 13 Agustus 1983, tapi di KTP tercatat 14 Agustus 1983. Ini karena orang tua saya telat sehari melaporkan kelahiran saya ke pihak berwajib. Perempuan yang melahirkan saya bernama Ida Ayu Kade Redani, suaminya bernama Ida Ketut Arnyana. Keduanya adalah petani kelas gurem dan buruh bangunan. 


Saya merampungkan pendidikan formal hingga SMA di tanah kelahiran, dengan cita-cita menjadi polisi. Namun menjelang tamat SMA saya malah bercita-cita jadi penyair. Setamat SMA saya bekerja sebagai wartawan selama setahun di Bali. Tahun 2003, dengan nekat dan sedikit membohongi orangtua, saya hijrah ke Jogja untuk kuliah di Jurusan Teater, ISI Yogyakarta, dengan cita-cita yang tidak begitu saya yakini.

Perkenalan saya dengan teater diawali lewat keterlibatan dengan kelompok teater di SMA, yang kemudian mengenalkan saya pada Nanoq da Kansas, seorang sastrawan dan teaterawan dari Jembrana. Ketika teater yang saya ikuti di sekolah akhirnya bubar sebelum sempat pentas, Nanoq mengajak saya bergabung di Bali Eksperimental Teater dan Komunitas Kertas Budaya. Sebelum punya pengetahuan teater yang cukup, saya sudah dipaksa terlibat dalam beberapa garapan Bali Eksperimental Teater yang dipentaskan di Jembrana, Mataram, Surabaya dan Jakarta. 

Di Jogja saya sempat bergabung dalam Komunitas Rumahlebah yang dikoordinir Raudal Tanjung Banua. Saya juga kerap terlibat dalam beberapa latihan bersama Suprapto Suryodarmo, seorang movement master dari Solo. Tahun 2005 saya dan seorang teman mendirikan Seni Teku, dan mengukuhkan diri sebagai sutradara dan penulis lakon kelompok tersebut hingga kini. Lewat Seni Teku saya mulai merasa bahwa kehidupan mutakhir saya tergantung pada teater. Maka dengan militan dan keras kepala saya berusaha menjaga keberlangsungan hidup kelompok (dan teater) yang telah saya inisiasi itu. 

Melalui Kintir (Anak-anak Mengalir di Sungai), sebuah garapan saya bersama Seni Teku dalam Festival Teater Jogja 2009, saya dinobatkan sebagai sutradara potensial sekaligus meraih Penghargaan Umar Kayam. Naskah lakon saya yang berjudul Rare Angon dinobatkan sebagai pemenang 5 terbaik dalam Sayembara Penulisan Naskah Drama Nasional I Federasi Teater Indonesia (FTI) 2008. Sedangkan naskah lakon Keok pernah dibacakan dalam Indonesia Dramatic Reading Festival (IDRF) 2010 di Yogyakarta, dan pada event yang sama di Bandung pada 2011. Selain menulis naskah lakon, saya juga menulis esai tentang seni dan budaya. Buku saya yang telah terbit adalah Bali Tanpa Bali (Denpasar, 2008), sebuah kumpulan esai tentang budaya Bali. 

Saya adalah orang Bali yang tidak Bali. Saya lahir di tengah tradisi Bali yang sangat longgar, dan sampai sekarang saya tak menguasai satu pun jenis seni tradisi Bali. Namun harus diakui bahwa karya-karya teater saya banyak “dikotori” oleh anasir-anasir budaya Bali. Belakangan, karya-karya saya juga dipengaruhi berbagai anasir dari wilayah budaya yang menjadi lingkungan hidup sehari-hari saya: Jawa. 

Kini saya masih bertahan tinggal di sebuah kamar kos 2,5 m x 2,5 m di Sewon, Bantul, bersama buku-buku, sebuah komputer tua, sebuah kasur dan bantal berusia delapan tahunan, dan... teater.
Terima kasih.