Dario Fo: Kegilaan dan Perlawanan

Wacana Penerjemah Anarkis Itu Mati Kebetulan

Antonia Soriente & Prasetyohadi

Porto Valtravaglia adalah sebuah kota kecil di Italia bagian utara yang dihuni pengrajin tradisional gelas-gelasan. Jumlah orang gila di kota itu mencapai persentase tertinggi di seluruh Italia. Waktu kecil, Dario Fo, komedian-dramawan pemenang Nobel Sastra 1997, tinggal bersama orang tuanya di situ. Dan Fo kecil, lahir 1926, begitu suka dan asyik memperhatikan tingkah laku orang-orang gila. Rasa dekat Fo pada mereka memberinya inspirasi menciptakan karakter maniak yang dominan dalam karya-karyanya. 

Dalam hampir semua karyanya, suatu personifikasi kesintingan atau karakter orang gila selalu muncul. Dalam beberapa karyanya bahkan tokoh si gila menjadi pemeran utama, seperti dalam drama yang tersaji di sini, Anarkis Itu Mati Kebetulan (1970), juga terutama dalam karya pièce celèbre-nya, Mistero buffo (Kisah Suci yang Konyol, 1977). 

Dari segi tradisi teater, Fo mengangkat commedia dell’arte, sebutan untuk semacam teater rakyat keliling yang berkembang di Italia sejak pertengahan abad XVI sampai dengan pertengahan abad XVIII. Selama dua abad teater rakyat ini menyebar dan populer di daratan Eropa. Ciri kocak commedia ini selalu mengangkat persoalan hidup sehari-hari yang nyata dalam masyarakat sehingga disukai kalangan bangsawan, intelektual maupun rakyat jelata. 

Para dramawan ini berpentas di piazza-piazza, mengembara dari kota ke kota di zaman peradaban gelap itu. Semula mereka memang berkarya dan pentas di teater-teater yang menetap, yang disebut sebagai commedia di corte, teater resmi yang direstui oleh penguasa. Tapi sejak gereja dan kekuasaan sipil memegang kendali seluruh kehidupan masyarakat, mencampuradukkan kekuasaan agama dan kekuasaan sekuler, teater yang cenderung menjadi kritis itu lalu dicekal dan dibubarkan. Akibatnya, orang-orang teater itu berpentas dan mengembara dari satu tempat ke tempat yang lain. Mereka yang masih mencoba berkelompok pun dilarang oleh penguasa. Maka, lebih sering mereka tampil tunggal dan pentas mereka menjadi pertunjukan monolog. 

Dario Fo bermain dalam Hellequin, Harlekin, Arlecchino (1985), dengan menggunakan tata rias dan busana khas commedia dell'arte.

Roh teater ini, aktualisasi dari tradisi giullare di Abad Pertengahan, si pelawak, badut, tukang ledek penuh parodi, hadir kembali dalam diri Dario Fo. Dia sanggup berpentas seorang diri, berdasarkan plot longgar, mengandalkan hafalan dan improvisasi terhadap plot kasar yang disebut canovaccio, selama empat jam terus-menerus tanpa henti, tanpa dukungan kostum atau musik, dan tetap mempertahankan daya tarik sehingga penonton tidak beranjak pergi dari tempat duduknya. Di sinilah ia mengambil hampir semua fungsi dalam teater: penulis cerita, aktor, sutradara, produser, penata panggung, tata musik, perancang desain. Produktivitas Fo mencapai 130 kali pertunjukan setiap tahunnya. Sambil bersila atau duduk di lantai, para penonton itu terkesima oleh semua lawakan kocak yang diperagakan Fo. Seperti dalam teater rakyat umumnya, di mana antara publik, pemain dan panggung tak ada jarak. 

Apa yang dihasilkan oleh Fo sebenarnya mengambil anasir cerita rakyat yang lucu dan biasanya dipandang rendah karena terkesan tak bermutu. Bahan-bahan itu tersedia dalam drama-drama berisi cerita-cerita suci dari Abad Pertengahan dan dari lingkaran-lingkaran kelompok penghayat agama. Seluruh bahan itu ditata dan dibalik menjadi alat untuk menyerang secara politis dan budaya, melawan penindasan yang dilakukan oleh gereja dan para tuan tanah kapitalistik. Kreasinya diungkapkannya dalam bahasa petani dan—dalam pengertian modern sekarang—bahasa kampungan kelas tertindas. Fo masih memperkaya ciptaannya itu dengan konsep-konsep epik didaktik dari realisme sosialis Bertolt Brecht dan optimisme sosialis karya penyair Vladimir Mayakovsky; lalu dari konsep politik, ia menimba pemikiran Mao Zedong dan Antonio Gramsci. 

Interpretasi ini digabungkannya dengan seluruh gagasan perlawanan terhadap penguasa, baik pemerintahan kapitalistik maupun budaya represif Gereja Katolik. Mengangkat berbagai dialek pedesaan yang digunakan di daerah lembah Po, Lombardia, Venesia dan Piedmonte, Fo “menciptakan” sebuah bahasa rekaan yang disebut grammelot, digabungkan dengan gerak-gerik burlesque, pantomim, ejekan dan parodi, sebagai bentuk perlawanan terhadap bahasa Italia standar nasional. Grammelot tampak jelas dalam karyanya Mistero buffo yang terdiri dari beberapa unit drama bertemakan satire yang getir terhadap praktik-praktik kehidupan beragama dan sosial-politik yang munafik di negeri yang mayoritas berbudaya Katolik itu. 

Bentuk perlawanan lain diungkapkannya dalam keterlibatan politik. Teater menjadi suatu bentuk ejawantah perjuangan kelas. Istri Fo, Franca Rame, yang juga seorang aktris terkemuka dari keluarga seniman commedia dell’arte yang fanatik, lebih dahulu bergabung dengan Partai Komunis Italia (PCI), tahun 1967. Perempuan inilah yang kemudian banyak memberi pengaruh, dorongan dan inspirasi kepada Fo dalam karya-karyanya, sampai-sampai Fo sering disindir sebagai “suami seorang aktris”. Hadiah Nobel 1997 yang besarnya mencapai satu juta dolar, karena semangat pembelaan terhadap kalangan bawah, dan atas desakan Franca Rame, akhirnya dibagikan kepada panti-panti asuhan, tapi sebagian lain digunakan untuk membiayai proses peradilan atas tuduhan kepada tiga aktivis kiri dalam kasus pembunuhan Kepala Polisi Milan, 1972. Franca Rame sendiri pernah diperkosa oleh dua lelaki, yang kemudian terbukti dalah polisi. 

Aspek politik ini tampaknya menjadi acuan sikap para juri dalam memenangkan Fo sebagai peraih Nobel Sastra 1997. Akademi Swedia memandang lakon Anarkis Itu Mati Kebetulan sebagai karya puncak Fo, meskipun Mistero buffo jauh lebih populer. Dramawan ini dinilai membuka mata atas kesewenang-wenangan dan ketidakadilan dalam masyarakat, serta memperlebar wawasan sejarah perjuangan kalangan bawah. 

Tahun 1970, Fo membentuk suatu kelompok teater yang bernama La Comune, dekat dengan gerakan kiri ekstraparlementer. Mereka mengambil lokasi di tengah-tengah perkampungan buruh di pinggiran Kota Milan. Meskipun para anggota teater ini berusaha bersikap dingin terhadap berbagai kelompok radikal, ideologi politik teater ini jelas memperjuangkan kepentingan sayap kiri. 

Pilihan politik ini diangkat karena situasi politik di Italia pada akhir tahun 1960-an memanas. Gelombang pembaruan kalangan antikemapanan di Paris tahun 1968, untuk meruntuhkan kalangan Gaullis, merambat jauh sampai ke Italia. Revolusi kebudayaan di Republik Rakyat Tiongkok yang terjadi setahun sebelumnya, implikasi dari Perang Vietnam serta berbagai gerakan gerilya di Amerika Latin dan Afrika juga sangat memengaruhi kesadaran kalangan kiri di Italia. Mereka menggeliat, tapi sikap bertahan kalangan kanan penguasa tak kalah gencar. 

Data statistik mencatat, selang hampir dua tahun sejak 1969, terjadi 173 kali serangan bom di Italia. Sebanyak 102 kali telah terbukti diorganisasi oleh kalangan fasis. Sisanya sebanyak 71 kali didalangi oleh kalangan sayap kanan untuk mengembuskan rasa curiga dan menciptakan rasa benci masyarakat terhadap kalangan kiri. Teater La Comune mencoba hadir dalam situasi tak menentu itu sebagai informasi tandingan atas kabar bohong yang tersebar di media massa yang merugikan sayap kiri. 

Dario Fo berperan sebagai tokoh Orang Gila dalam Anarkis Itu Mati Kebetulan

Ketegangan politik antara sayap kanan dan kiri itu memuncak dalam kontroversi yang diperkeruh oleh media massa atas penangkapan Giuseppe Pinelli. Tahun 1969, pegawai jawatan kereta api itu disangka meledakkan bom di Stasiun Kereta Api Milan dan di sebuah bank di kawasan Piazza Fontana, Milan, yang menewaskan 17 orang; sekitar 100 orang cedera. Pinelli ditangkap bersamaan dengan Pietro Valpreda, seorang penari balet asal Roma yang disangka menjadi anggota kelompok anarkis bawah tanah. Kontroversi merebak setelah Pinelli mati “terjatuh”, 15 Desember 1969, dari sebuah jendela lantai empat markas polisi di Milan, saat dia diinterogasi. Peristiwa terakhir inilah yang diangkat oleh Dario Fo sebagai titik tolak Anarkis Itu Mati Kebetulan, yang menggugat kolusi di antara polisi, jaksa, hakim, wartawan dan pemuka agama, untuk menutup penyingkapan mati “kebetulan” sang tersangka. Lakon ini dipertontonkan di hampir semua kota besar di Italia, beberapa kali di luar Italia, seperti London. Jumlah seluruh penonton selama dua setengah tahun pementasan mencapai lebih dari satu juta. 

21 Tahun Kemudian 
Lebih dari dua puluh tahun telah lewat sejak terjemahan karya Dario Fo ini terbit di Kalam (1998). Walaupun banyak peristiwa telah terjadi sejak itu, lakon ini tetap menarik dan relevan sebagai karya yang menjadi kritik dan perlawanan terhadap kemapanan dan segala bentuk intimidasi dari pihak penguasa. 

Kasus Pinelli yang diangkat secara satiris dalam lakon ini belum juga menemukan penyelesaian hukum. Walaupun beberapa buku telah ditulis, beberapa proses pengadilan sudah diadakan, namun tetap saja tak menemukan siapa yang salah. Memang, sang anarkis Pinelli menjadi kambing hitam dari sebuah manuver politik yang melibatkan beberapa unsur yang sampai saat ini belum terbukti bersalah. Kasus hukum kematian anarkis yang terjatuh dari lantai empat markas polisi di Milan setelah peristiwa bom di Piazza Fontana ini tetap saja menjadi bahan pembicaraan kaum politisi, seniman dan sejarawan, karena dampaknya masih terasa sampai hari ini. 

Adriano Sofri, pemimpin Lotta Continua, yang dipenjarakan pada tahun 1988 atas dakwaan sebagai otak pembunuhan Komisaris Luigi Calabresi—yang kantornya menjadi tempat interogasi Pinelli—akhirnya bebas dari bui pada tahun 2012. Walaupun kesalahannya tidak pernah terbukti, Sofri tidak pernah minta grasi pada Presiden Republik Italia hanya karena dia tidak merasa bersalah. Namun dia pernah meminta maaf pada keluarga Calabresi karena dia mendukung kampanye yang memojokkan Calabresi sebagai orang yang bertanggung jawab atas kematian Pinelli sebelum Calabresi dibunuh. Kegiatan sebagai cendekiawan, penulis dan wartawan tetap dia jalankan setelah keluar dari penjara. Selama beberapa tahun dia memegang satu kolom di harian ternama La Repubblica dan menulis secara lepas untuk il Foglio (yang justru berhaluan kanan!), juga untuk majalah l’Espresso dan Panorama, sebelum haluan editorial majalah-majalah ini berubah condong ke kanan. Kolaborasi Sofri dengan La Repubblica berarkhir tahun 2015 sewaktu—ironisnya—Mario Calabresi, anak Luigi Calabresi, menjadi pemimpin redaksi harian ini. Media massa pernah membahas betapa anehnya dua insan ini bisa menyumbang pemikiran pada media yang sama! 

Tragedi bom di Piazza Fontana serta peran Calabresi dan Pinelli pernah diangkat ke layar lebar pada tahun 2012. Film garapan Marco Tullio Giordana ini berjudul Romanzo di una strage (Piazza Fontana. The Italian Conspiracy), yang sebagaimana ditulis dalam buku yang menjadi acuan bebas Il segreto di piazza Fontana (Rahasia Piazza Fontana) oleh Paolo Cucchiarelli (Milan: Ponte alle Grazie, 2009), sebenarnya mengecilkan peran Calabresi sebagai penyebab mati-jatuh-nya Pinelli, karena memang pada saat itu dia tidak ada di kantornya. 

Tahun 2016, Dario Fo, sang penulis, aktor, sutradara, aktivis politik, desainer dan cendekiawan kaum kiri ini, meninggal dunia pada usia 90 tahun; didahului tiga tahun sebelumnya oleh pasangan sejatinya, Franca Rame, pejuang kaum perempuan, aktris kawakan, cendekiawan feminis serta politisi pembela kaum buruh yang pernah menjadi senator Republik Italia. 

Karya Dario Fo ini tetap aktual dan relevan sebagai karya teater dan sastra, karena dengan pernyataan-pernyataannya yang tajam, bentuknya yang khas serta sifatnya yang universal, berhasil menjadi suatu cara melawan sambil menertawakan segala bentuk konspirasi politik yang memojokkan kaum lemah. •