Prakata Edisi Pertama
Menengok Tradisi, Sebuah Alternatif bagi Teater Modern
Terutama pada bulan Maret semakin menggebu seminar dan simposium dilaksanakan, konon kabarnya karena ada budget yang harus dihabiskan, dan bulan April akan hanguslah budget itu. Keadaan ini mustahil menjadi latar belakang suatu temu dan simposium teater. Uang selalu langka, menggebulah harus dicari dana dari segala penjuru. Akhirnya sumber dana memang terbatas selalu hanya dari beberapa pihak saja. Patutlah terima kasih disampaikan atas sumbangan sehingga terlaksananya acara ini.
Dana yang dicari dan diperoleh tidak mubazir, tidak untuk suatu kemewahan, tetapi untuk suatu urgensi yang bertema “Menggali Nilai-Nilai Tradisional untuk Perkembangan Teater Modern Indonesia”. Urgensi ini terasa sekali bila kita risi menonton suatu festival teater yang langka penonton, di mana tampak pergumulan suatu bentuk seni untuk menyentuh publik yang masih fiktif.
Bahwa Arifin C. Noer, Rendra, Putu Wijaya, dan Ikranegara menarik publik juga, kita anggap sementara adalah karena kegigihan mereka, dan tetaplah keabsahan eksistensi bentuk teater modern Indonesia dapat dipertanyakan. Ternyata memang mereka mencari keabsahannya sendiri lewat beberapa gerak strategis. Menampilkan ciri populis dalam tema menyiratkan sikap solidaritas merakyat yang tidak lagi berorientasi pada lapisan masyarakat elite berpendidikan Barat sisa-sisa penjajahan yang dianggap berselera tinggi dan mengembangkan estetisisme sebagai ciri kemanusiaan hidup. Suatu gerak strategis lain ialah untuk menyelundupkan motif-motif nihilisme Barat juga seperti keterasingan dan absurditas kondisi manusia. Tampaknya seperti penempelan suatu merek dagang saja kadang-kadang. Tetapi kedua manouvre di atas, baik sikap merakyat dibarengi kritik atau protes sosial, maupun ramuan alienasi dan absurditas, perlu disimak keabsahannya dalam jaringan iklim hidup kita dewasa ini. Benarkah terdapat kontinuitas yang sekaligus menunjang dalam masyarakat kita dengan apa yang terpantul di panggung teater ini?
Mungkin kedengarannya terlalu sederhana, tetapi keabsahan teater modern Indonesia perlu dibuktikan lewat hadirnya modus yang relevan dengan iklim kehidupan kita. Protes dan kritik sosial, alienasi dan absurditas, mestinya selalu relevan, tetapi bentuk atau modus yang tidak tepat, tidak dapat ditoleransi. Bukan masyarakat yang salah, tetapi teaterlah yang gagal mencipta bentuk intensifikasi penghayatan hidup kita sehari-hari yang biasanya terlalu sama dan luput dari pemahaman sendiri. Maka itu, hari depan teater modern Indonesia mempunyai potensi besar bila berbagai sikap dalam masyarakat kita, berbagai gejala kesantaian tipu diri dan kemunafikan, sebagai perbendaharaan lengkap kecenderungan degeneratif, dapat dipantulkan, dicerminkan, bahkan mengalami penampilan sebagai intensifikasi.
Yang berpaham “teater demi teater” akan merasa terganggu, pula bila kita berpaham teater adalah kreativitas saja, habis perkara. Masalahnya ialah bahwa tanpa kontinuitas budaya, teater modern Indonesia menjadi barang “asing dan absurd” sendiri. Jadi, memang sangat tepat kita beri perhatian penuh pada temu dan simposium yang menggali nilai-nilai tradisional. Nilai-nilai tradisional inilah yang perlu ditelusuri dalam bentuk-bentuk mutakhir. Dengan memahami dan menelanjangi berbagai penyamaran nilai-nilai tradisional, menjadi lebih jelaslah keabsahan teater modern kita, sebagai intensifikasi penghayatan, dan bahkan siapa tahu, sebagai suatu proses penyembuhan. •
Toeti Heraty
Ketua Dewan Kesenian Jakarta