Pertemuan Teater 1980
Pengantar Konsep Kerja Teater
Bukan pertemuan pertama antara orang teater. Sebelumnya sudah sering diselenggarakan pertemuan dalam rangka pementasan grup teater antarkota yang disertai dengan diskusi atau pertukaran pengalaman dan pengetahuan teater. Tema-tema diskusi, seperti manusia sebagai modal utama teater dengan memanfaatkan lingkungan, masalah sumbangan teater rakyat atau teater tradisional kepada teater modern Indonesia, kondisi teater kita dewasa ini, semuanya sudah pernah dibicarakan, biarpun belum begitu tuntas dan mendalam. Namun demikian, masih banyak persoalan teater yang perlu dibicarakan dan tidak akan henti-hentinya diperdebatkan selama kegiatan teater ada di Indonesia. Diskusi sebagai salah satu dinamisator kehidupan teater karena bisa memberikan pikiran, ide, atau inspirasi baru.
Para pimpinan teater atau lebih dikenal dengan jabatan sutradara dari beberapa pusat kegiatan teater akan diundang menghadiri Pertemuan Teater 1980. Secara khusus ditekankan kepada sutradara karena yang akan dibicarakan dalam pertemuan itu adalah masalah konsep kerja teater. Kalau kita coba mengadakan semacam stock opname dari masalah teater Indonesia, maka ada dua hal yang merupakan kekurangan pokok dari teater Indonesia yang sekaligus menjadi hambatan utama kemajuan teater Indonesia itu. Dunia teater kita kekurangan tenaga penulis cerita yang baik dan tenaga sutradara yang baik. Dengan menekankan kepada kedua masalah di atas, tidaklah berarti mengurangi peranan unsur lain yang mendukung kehidupan teater itu. Dunia teater kita adalah teater kurang dalam segala hal. Kekurangan pemain yang baik, penonton, biaya, fasilitas pementasan, dan sederetan kekurangan lainnya. Tetapi penulis naskah dan sutradara boleh dikatakan merupakan motor utama dari kegiatan teater. Kita tidak perlu pasrah kepada kekurangan ini dan kita harus mampu mengatasi kekurangan kita sendiri. Ini penting sebagai dasar optimisme dan kreativitas orang-orang teater itu sendiri. Buktinya? Pertemuan Teater 1980 ini diselenggarakan dalam rangka penyelenggaraan Festival Teater Remaja VII. Ternyata sesudah tujuh tahun diselenggarakan, jumlah grup teater yang ikut festival rata-rata seratus dua puluh lima grup teater setiap tahun. Semangat atau kegairahan berteater ini barangkali baru bisa kita pahami (kalau tidak mau mengaguminya) sesudah mengetahui banyaknya pengorbanan yang diberikan untuk itu, baik dalam bentuk uang, waktu, pengorbanan pikiran dan perasaan, dan lain-lain. Grup teater remaja itu berkorban untuk sebuah kata yang sederhana dan sudah banyak orang melupakannya, yaitu idealisme. Optimisme dan kreativitas, inilah modal teater yang paling berharga. Setidak-tidaknya buat sebuah perjuangan yang bernama membangun teater Indonesia dan masa depannya yang cerah.
Ada kenyataan dan perkembangan baru dalam dunia teater Indonesia akhir-akhir ini. Kenyataan dan perkembangan yang membuat kita optimis tentang masa depan teater itu. Tahun lima puluhan jarang kita menemukan sebuah grup teater yang langsung dipimpin seorang pengarang sandiwara. Kita mengenal nama-nama pengarang sandiwara seperti Utuy Tatang Sontani, Motinggo Busye, Kirjomulyo, dan lain-lain, akan tetapi pengarang ini boleh dikatakan sangat asing dengan idiom atau unsur teater yang bernama penyutradaraan, pemeranan, penataan artistik, termasuk kerja teater itu sendiri. Mereka menyerahkan nasib naskah sandiwaranya kepada tangan sutradara atau grup teater yang mementaskan naskahnya. Pada tahun enam puluhan muncul Arifin C. Noer dengan Teater Kecil-nya yang merupakan model bagi beberapa grup teater pada tahun tujuh puluhan. Arifin sebagai pengarang naskah sandiwara dan sering memperoleh hadiah sayembara juga merangkap sutradara Teater Kecil. Menciptakan lembaga kepengarangan dalam grup teater inilah yang perlu dianjurkan dan didorong kepada grup teater. Hal ini sudah sering diucapkan dalam pertemuan teater yang resmi dan tidak resmi. Teguh dan Srimulat telah melakukan hal ini puluhan tahun dan ribuan kali pementasan.
Untuk mengatasi salah satu kekurangan pokok teater kita dalam hal ini untuk memperoleh cerita yang baik, maka tidak ada jalan lain kecuali menciptakan lembaga kepengarangan ini dalam diri grup teater untuk menghidupkan dan mengembangkan teater Indonesia. Kepengarangan ini bisa dilakukan oleh satu orang atau dilakukan secara kolektif. Alat untuk itu tersedia dalam teater itu yang bernama diskusi dan improvisasi. Bagaimana cara atau konsep kerjanya bisa dibicarakan dalam pertemuan teater ini.
Dewan Kesenian Jakarta memang menyelenggarakan sayembara penulisan naskah sandiwara setiap tahun. Tetapi tahun terakhir sayembara menunjukkan hasil yang tidak begitu menggembirakan. Keputusan juri hanya memberikan hadiah perangsang, tanpa pemenang satu orang pun. Jadi, sayembara sebagai sumber untuk memperoleh naskah sandiwara tidak selalu bisa diandalkan. Karena itu, lembaga kepengarangan dalam grup teater kita merupakan program dan kebutuhan yang sangat mendesak.
Dalam pertemuan teater ini akan berkumpul pimpinan teater untuk membicarakan hal yang sangat penting bagi sebuah grup teater yang bernama konsep kerja. Yang dimaksud dengan konsep kerja itu dalam garis besarnya adalah mempermasalahkan proses peneateran sebuah naskah, sebuah sinopsis atau bahkan sebuah ide, mulai dari persiapannya sampai rampung menjadi sebuah pertunjukan teater yang utuh. Bagaimanakah naskah, sinopsis, atau ide-ide itu dipersiapkan? Apakah diadakan penafsiran atau diskusi terlebih dahulu? Apakah sutradara melibatkan seluruh pemain dalam penafsiran dan diskusi ini, atau sutradara mendikte segala-galanya kepada pemainnya? Kalau ide pementasan itu dari sebuah sinopsis atau sebuah ide dan tidak mempergunakan naskah, bagaimana proses pengadegannya, dan bagaimana adegan-adegan itu dirangkaikan menjadi sebuah pementasan yang padu? Apakah sumber cerita dari grup teater itu kehidupan dan kenyataan lingkungan, mitologi, folklor, atau ada sumber lain, misalnya dari novel? Bagaimana sutradara membangun komunikasi dengan pemainnya, membakar imajinasinya, mengentalkan pemusatan perhatiannya, membongkar arsip ingatan emosinya, atau populernya membangun suasana kreativitas waktu latihan? Bagaimanakah penilaian sutradara dalam soal latihan, sebagai ruang dan waktu untuk eksplorasi ide-ide dan lain-lain? Pertanyaan di atas masih bisa diperpanjang dan rangkaian pertanyaan di atas adalah hal-hal yang inheren dengan konsep kerja teater itu.
Mudah-mudahan Pertemuan Teater 1980 ini ada manfaatnya bagi pimpinan/sutradara teater khususnya, bagi teater Indonesia umumnya. •
Dewan Kesenian Jakarta,
Dewan Pekerja Harian,
Wahyu Sihombing