Pengantar

Pulih: Antologi Naskah Festival Kala Monolog

Buku antologi naskah ini bertumpu pada gagasan “Pulih” yang menjadi tema Festival Kala Monolog (FKM) 2022. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mencatat: pulih/pu·lih/ v kembali (baik, sehat) sebagai semula; sembuh atau baik kembali (tentang luka, sakit, kesehatan); menjadi baik (baru) lagi. FKM mengundang sejumlah penulis dari berbagai wilayah di Indonesia untuk menafsir sekaligus memberi makna berbeda pada gagasan “Pulih”.

“Pulih” merupakan tangkapan atas peristiwa pandemi yang menggelindingkan varian kehidupan yang baru, yang ritme emosinya nyaris sepenuhnya berwarna kelabu. Setelah pandemi perlahan berlalu, banyak orang berhasil mengikis rasa takut dan sedih menggantinya dengan upaya untuk tenang dan berani. Sistem sosial dan ekonomi yang menjadi pijakan hidup, bekerja, dan berinteraksi kembali diberi pemaknaan.

Agnes Christina, Dyah Ayu Setyorini, dan Azhari Aiyub menyuguhkan percakapan kritis antargenerasi dan antardiri. Naskah “Rasa” memperlihatkan perdebatan seorang anak perempuan dan ibunya yang memiliki perspektif berbeda atas harapan dan pilihan hidup sementara naskah “Prana di Sebuah Teras Pria Tua” menyodorkan dialog pria tua dan pria muda perihal manusia, dunia di masa pandemi, dan realitas yang dihadirkannya. Tokoh separatis yang diburu dan disiksa digambarkan naskah “Sopir 1989” melalui karakter sopir yang berdialog dengan dirinya perihal keraguan, ketidakpastian, dan dugaan pengkhianatan.

Ibed S. Yuga dan Imas Sobariah menggunakan peristiwa pandemi untuk memotret kisah buruh pabrik dengan jalur perlawanan yang berbeda. Naskah “Wabah: Reinkarnasi” melakukan pelacakan jejak wabah di dunia, perenungan tentang maut, kematian, dan perasaan sepi melalui kacamata buruh pabrik yang mengalami PHK. Buruh dalam “Kota yang Khianat” digerakkan oleh seorang perempuan tua yang berinisiatif menggalang solidaritas untuk protes menuntut hak buruh dibayar sembari menyoal prasangka dan pengkhianatan.

Nurul Inayah, Udiarti, dan Wulan Dewi Saraswati menghadirkan karakter perempuan yang tangguh sekaligus rapuh juga percaya diri mencetuskan keputusan atas hidup. Naskah “Ruang Tunggu Kemoterapi” membicarakan tegangan antara hasrat, cinta, dan tubuh melalui kisahan linear. Naskah “Seseorang Mengeja Kamar Mandi” berlangsung di ruang privat, menggelindingkan kisah rumah, pulang, dan kematian yang menandai perubahan nasib yang sengit. Naskah “Nadi di Ujung Taji” berkisah tentang maut, karma, dan pertaruhan berbuntut derita berkepanjangan.

Naskah-naskah dalam buku ini mencuatkan introspeksi atas sistem sosial, budaya, dan teks cerita sejarah. Perspektif ruang yang dibangun turut menjelaskan tarikan pemikiran antara desa dan kota, kampung dan kota, tempat lama dan asing, Indonesia dan luar Indonesia. Wacana maut dan kematian berkeliaran di kepala para karakter. Mereka menyongsong, menghadang, menunda bahkan mencoba menghentikannya.

Dari sanalah gagasan “Pulih” terpantul, dari kisah-kisah pahit di masa silam dan masa kini, dari lapisan hidup terdalam dan terluar atau di antaranya. Buku antologi naskah ini sekaligus mencatat keterhubungan antara aspek diri, masyarakat, dan Tuhan dalam konteks kehidupan yang berbeda. Kehidupan yang mencoba “Pulih” melalui upaya diri masing-masing.

Hendaknya, buku antologi naskah ini membuka pintu untuk perjalanan siapa saja menuju “Pulih”.

Penyunting,
Shinta Febriany