Pengantar Penerbit

Ngaum: Tiga Lakon Singapura

Hubungan Indonesia dan Singapura sering kali dibayangkan terutama melalui jalur perdagangan, diplomasi, investasi, atau mobilitas tenaga kerja. Namun, hubungan kebudayaan—terutama melalui sastra dan teater, dan lebih spesifik lagi naskah lakon teater—belum berkembang seintensif kedekatan geografis dan historis kedua negara. Padahal, Indonesia dan Singapura berbagi sejarah yang saling bertaut: kolonialisme Inggris dan Belanda, pembentukan negara-negara pascakolonial, migrasi masyarakat Tionghoa dan Melayu, krisis ekonomi Asia 1997–1998, hingga pergulatan terus-menerus mengenai identitas nasional, keberagaman agama, kebebasan berekspresi, dan posisi negara dalam mengatur kehidupan warganya. Penerbitan terjemahan tiga lakon Singapura ini merupakan upaya untuk lebih mengintensifkan percakapan lintas batas di ranah (naskah lakon) teater Indonesia. Terjemahan bukan sekadar memindahkan bahasa, melainkan membuka kemungkinan baru untuk memahami bagaimana masyarakat lain memikirkan dan menanggapi persoalan-persoalan yang sesungguhnya juga kita alami.

Bagi Kalabuku, penerbitan buku ini merupakan bagian dari ikhtiar yang lebih luas dalam melakukan gerakan literasi teater/pertunjukan. Kalabuku lahir dan berupaya menjadi platform bagi kreasi sekaligus diseminasi gagasan dan pengetahuan, dengan keyakinan bahwa ekosistem teater tidak hanya dibangun oleh pertunjukan, tetapi juga oleh pembacaan, penulisan, penerjemahan, pengarsipan, dan diskusi. Dalam kerangka itulah, menghadirkan karya-karya Jean Tay, Alfian Sa’at, dan Joel Tan dalam bahasa Indonesia bukan hanya memperluas khazanah bacaan lakon teater, melainkan juga memperkaya bahan dialog bagi seniman, akademisi, mahasiswa, dan pembaca umum tentang berbagai kemungkinan estetik dan politik yang dapat dihadirkan oleh teater Asia Tenggara.

Jean Tay menulis “Plunge” pada penghujung masa krisis moneter dan finansial yang melanda Asia, yang juga mengubah wajah Asia Tenggara. Namun, lakon ini tidak menjadikan krisis sebagai sekadar latar sejarah, tetapi sebagai cara membaca bagaimana manusia dipaksa menghadapi runtuhnya kepastian. Dengan struktur yang memadukan siaran berita, chorus, monolog, dan fragmen-fragmen yang bergerak cepat, Jean Tay mempertanyakan objektivitas media, mitos kemajuan ekonomi, sekaligus jarak antara statistik dan pengalaman manusia. Krisis moneter yang dalam pemberitaan tampil sebagai grafik, angka, dan indeks ekonomi berubah di atas panggung menjadi tubuh-tubuh yang terluka, identitas yang tercerabut, dan relasi antarmanusia yang retak. Kehadiran tokoh Ina, perempuan Indonesia keturunan Tionghoa, menjadikan tragedi Mei 1998 bukan sekadar catatan sejarah Indonesia, tetapi luka regional yang juga mengguncang imajinasi Singapura.

Bagi pembaca Indonesia, “Plunge” menawarkan pengalaman yang unik karena memandang Reformasi dan kerusuhan Mei 1998 dari seberang Selat Malaka. Pandangan tersebut bukanlah pandangan orang luar yang dingin, melainkan kesadaran bahwa nasib negara-negara Asia Tenggara saling kait. Ketika rupiah jatuh, baht Thailand runtuh, dan pasar regional berguncang, Singapura pun ikut menghadapi kecemasan kolektif. Jean Tay menunjukkan bahwa globalisasi tidak hanya mempercepat arus modal, tetapi juga mempercepat penyebaran ketakutan. Nyaris 30 tahun setelah peristiwa itu, “Plunge” tetap relevan bagi Indonesia karena mengingatkan bahwa setiap narasi tentang pertumbuhan ekonomi selalu menyimpan pertanyaan yang lebih mendasar tentang siapa yang sebenarnya membayar harga dari kemajuan, dan siapa yang kisahnya hilang di balik bahasa resmi negara serta media.

Jika “Plunge” bergerak dalam skala regional dan geopolitik, “Nadirah” karya Alfian Sa’at justru menukik ke ruang domestik. Lakon ini berpusat pada hubungan seorang anak perempuan dengan ibunya, tetapi perlahan berkembang menjadi refleksi yang kompleks tentang warisan keluarga, kesehatan mental, religiositas, pendidikan, kelas sosial, dan pencarian identitas. Alfian Sa’at menolak menghadirkan karakter-karakter lakonnya sebagai representasi hitam-putih antara yang religius dan yang sekuler, antara yang modern dan yang tradisional. Sebaliknya, setiap karakter bergerak di wilayah abu-abu, tempat kasih sayang dapat berubah menjadi kontrol, keyakinan menjadi kecemasan, dan cinta keluarga menjadi sumber luka yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dialog-dialognya yang lincah dan penuh humor justru memperlihatkan betapa rapuhnya kehidupan sehari-hari ketika dibentuk oleh berbagai tuntutan sosial.

Dalam konteks Indonesia, “Nadirah” terasa sangat dekat. Perdebatan mengenai ekspresi keberagamaan, cara berpakaian perempuan, otoritas keluarga, hingga tekanan untuk menjadi “anak baik” merupakan pengalaman yang melampaui batas negara. Indonesia dan Singapura memiliki sejarah yang berbeda dalam mengelola keberagaman agama walaupun keduanya sama-sama menghadapi pertanyaan mengenai hubungan antara identitas keagamaan, ruang publik, dan kebebasan individu. Namun, dengan kondisi sosial-politik Indonesia yang sensitif terhadap isu SARA, rasanya nyaris mustahil ada kelahiran lakon-lakon teater semacam ini di Indonesia. Yang membuat “Nadirah” istimewa adalah keberhasilannya menghindari retorika ideologis. Alfian Sa’at menunjukkan bahwa persoalan-persoalan besar tentang agama dan identitas selalu bermula dari percakapan sehari-hari di ruang keluarga. Dengan demikian, lakon ini tidak menggurui, tetapi mengajak pembaca/penonton memahami bahwa konflik sosial sering kali berakar pada relasi yang paling intim.

Sebagai karya yang paling mutakhir dalam kumpulan ini, “Tu*an Itu Perempuan” (terjemahan dari “G*d is a Woman”) menunjukkan bagaimana medan pertarungan budaya telah berubah pada abad ke-21. Joel Tan mengambil inspirasi dari kontroversi publik mengenai seni pertunjukan, sensor negara, aktivisme kelompok konservatif, media sosial, hingga industri hiburan global. Alih-alih menyajikan pertentangan sederhana antara kebebasan berekspresi dan konservatisme agama, lakon ini justru memperlihatkan bagaimana berbagai aktor—seniman, birokrat, aktivis, jurnalis, politisi, hingga warganet—sama-sama terperangkap dalam logika opini publik, algoritma media sosial, dan ekonomi perhatian. Yang dipertanyakan bukan hanya siapa yang benar, melainkan bagaimana kebenaran diproduksi, dinegosiasikan, dan dipertontonkan di ruang publik.

Persoalan yang diangkat Joel Tan memiliki resonansi yang kuat di Indonesia. Perdebatan mengenai sensor karya seni, pembatalan pertunjukan, tekanan kelompok masyarakat terhadap ekspresi artistik, maupun pertarungan opini di media sosial merupakan bagian dari dinamika demokrasi Indonesia dalam dua dekade terakhir. Namun, yang menarik, lakon ini tidak menghakimi satu pihak sebagai pemenang moral. Semua tokohnya memiliki kepentingan, ketakutan, dan kontradiksinya sendiri. Negara tidak tampil sebagai kekuatan yang sepenuhnya represif, kelompok konservatif tidak sekadar menjadi karikatur, dan seniman pun tidak selalu tampil heroik. Kompleksitas inilah yang membuat “Tu*an Itu Perempuan” menjadi salah satu contoh penting dramaturgi kontemporer Asia Tenggara: ia memahami bahwa politik hari ini tidak lagi berlangsung hanya di parlemen atau jalanan, tetapi juga di ruang digital, institusi budaya, dan bahkan dalam strategi komunikasi sehari-hari.

Melalui tiga lakon tersebut, buku ini menghadirkan potret Singapura yang jauh melampaui citra negara-kota yang mapan, efisien, dan serba tertata. Di balik gedung-gedung pencakar langit dan narasi keberhasilan ekonomi, ketiga penulis memperlihatkan masyarakat yang terus bergulat dengan krisis ekonomi, identitas, agama, kekuasaan, gender, kebebasan individu, serta relasi antara warga negara dan institusi. Yang menarik, persoalan-persoalan tersebut tidak disampaikan melalui khotbah politik, tetapi melalui bahasa teater yang jenaka, puitis, eksperimental, sekaligus emosional. Ketiganya memperlihatkan bahwa panggung bukan sekadar tempat bercerita, melainkan ruang tempat masyarakat menguji kembali nilai-nilai yang selama ini dianggap mapan.

Karena itulah, ketiga lakon dalam buku ini tidak hanya memperkaya khazanah bacaan lakon teater di Indonesia, tetapi juga memperluas cakrawala percakapan teater Asia Tenggara. Bagi pembaca Indonesia, ketiga lakon ini terasa dekat karena menggemakan pengalaman sejarah dan persoalan yang saling bertaut—mulai dari Krisis Asia 1997–1998 dan Reformasi, hubungan antara mayoritas dan minoritas, politik identitas, hingga perdebatan mengenai demokrasi dan kebebasan berekspresi. Membaca lakon-lakon ini berarti menyadari bahwa pengalaman Indonesia dan Singapura bukanlah dua kisah yang berjalan sendiri-sendiri, melainkan bagian dari sejarah kawasan yang saling memengaruhi. Semoga buku ini menjadi awal dari kian banyaknya perjumpaan lintas bahasa, lintas negara, dan lintas panggung, sehingga teater Asia Tenggara dapat dibaca bukan sebagai kumpulan tradisi yang terpisah, melainkan sebagai percakapan yang hidup, saling menantang, dan terus berkembang.

Kalabuku