Menjadi Minoritas dengan (Agak) Santai

Penutup Forbearance/Utang Emosi


Jony Eko Yulianto

Pengalaman menjadi minoritas adalah pengalaman yang menumbuhkan. Sebagai sosok anak yang lahir dan besar dalam sebuah keluarga kristiani yang tinggal di sebuah kota kecil, saya mulai menyadari bahwa menjadi minoritas dalam agama memiliki implikasi yang besar dalam relasi-relasi yang kita miliki sehari-hari. Memori tentang pengalaman studi saat taman kanak-kanak, misalnya, masih sangat jelas tergambar di benak saya. Rekaman memori tentang bagaimana guru agama Islam yang saat itu hendak memulai pelajaran meminta saya pindah ke ruangan lain masih kuat sekali. Pada titik itu saya menyadari bahwa saya berbeda, dan perbedaan ini membuat saya perlu berpindah ruangan belajar. Dalam hal konten, saya akan belajar sesuatu yang lain, yang berbeda dengan apa yang teman- teman saya pelajari di kelas. Mata pelajaran agama ini pada akhirnya saya hanya ikuti seorang diri di sepanjang caturwulan. Momen ini adalah momen pertama saya menyadari bahwa berbeda itu tidak menyenangkan.

Seiring waktu berjalan, saya kemudian memahami bahwa berbeda adalah sebuah keniscayaan. Sebelumnya, saya selalu menjalani kehidupan di sekolah dasar hingga ke perguruan tinggi sebagai seorang kristiani. Hingga pada akhirnya, momen bekerja memberikan kesempatan kepada saya untuk bekerja menjadi seorang dosen di sebuah universitas yang didominasi oleh mahasiswa dan staf yang kristiani. Pengalaman ini kemudian menciptakan sebuah dialektika di dalam benak saya. Kehidupan saya sebagai seorang minoritas, melalui identitas sosial saya sebagai seorang kristiani, selama masa pendidikan formal dari TK hingga perguruan tinggi, tiba-tiba berubah sepenuhnya. Saya menjadi mayoritas di kampus ini. Semua orang berdoa dengan cara yang sama dengan apa yang saya lakukan. Mereka menyebut nama Tuhan yang sama dengan apa yang saya lakukan. Di perguruan tinggi tempat saya bekerja, saya merasa tidak berbeda dengan semua orang.

Namun demikian, rupanya kehidupan tidaklah sehitam-putih itu. Setelah direnung-renungkan, saya rupanya tetap menjadi minoritas. Saya yang adalah seorang individu dengan latar belakang etnis Jawa, yang merupakan mayoritas dengan komposisi 40% dari total penduduk Indonesia (Ananta et al., 2015), masih merupakan minoritas di universitas tempat saya mengajar, yang didominasi oleh etnis Tionghoa, yang uniknya secara populasinya tidak lebih dari 3% dari total populasi di Indonesia (Arifin et al., 2015). Saya berada di sebuah lingkungan yang memungkinkan saya mendengar narasi-narasi ketionghoaan dari kacamata yang lebih dekat (Christensen, 2012). Jokes bertema kemiskinan, yang selama ini berhasil membuat kawan-kawan di komunitas terpingkal-pingkal, tidak relevan untuk mahasiswa-mahasiswa saya yang mayoritas berasal dari kalangan keluarga berada. Narasi komunitas yang berbeda (Rappaport, 2000) membuat saya perlu mengubah isi pembicaraan, cerita, dan guyonan agar lebih relevan.

Semua pengalaman ini membuat saya merenungkan keminoritasan saya dengan lebih mendalam. Mengapa di suatu sisi, kita dapat menjadi mayoritas, tetapi di sisi yang menjadi minoritas? Mengapa di suatu aspek kita dapat menikmati kemewahan untuk mengakses fasilitas-fasilitas yang tidak bisa diakses oleh minoritas, tetapi di aspek lain kita merasakan tekanan karena tidak bisa mengakses apa yang teman-teman mayoritas sering kali nikmati? Mengapa di dalam keminoritasan, kita dapat memiliki kekuatan untuk tetap memengaruhi sebuah keputusan? Pengalaman menjadi mayoritas dan minoritas ini bagi saya sangat cair dan dinamis. Ia bahkan berkelindan satu dengan yang lain dalam ruang liminal (Yulianto et al., 2022a) dan membuat saya perlu sabar dalam memahami identitas saya sendiri keluar dari kotak-kotak identitas yang kaku.

Navigasi Luka dan Bahagia
Saya memilih mengawali catatan penutup ini dengan sebuah kisah yang personal untuk memberikan sedikit rasa tentang pengalaman menjadi minoritas dan dinamika psikologisnya yang kompleks. Hidup sebagai minoritas tidak pernah berada dalam dinamika yang sama dengan mayoritas. Meski tidak selalu, tetapi ada tekanan dalam minoritas. Dalam beberapa kasus, ada luka. Bahkan, luka ini sering kali masih basah dan mungkin tidak akan pernah sembuh. Ada trauma yang mendalam dan diwariskan lintas generasi. Luka-luka yang tidak selalu bisa diucapkan (Marching, 2007). Luka-luka yang proses membebatnya melelahkan dan menimbulkan rasa nyeri yang lain. Ada proses-proses menavigasikan tensi-tensi lintas budaya (Yulianto et al., 2022c). Jadi, tentu kita tidak bisa santai dalam memahami pengalaman minoritas. Kita butuh empati yang mendalam. Empati yang, meski tidak pernah diminta, tetapi layak untuk kita berikan.

Aspek-aspek luka ini tampak jelas terasa saat kita membaca kisah-kisah di dalam buku ini. Aspek-aspek luka ini dinavigasikan begitu rupa oleh tokoh-tokohnya. Luka ini tidak selalu menjelma dalam bentuk rintihan. Ia bisa juga menjadi sebuah kebungkaman seperti pada “The Lesson of Silence (Sekolah Sunyi)”. Namun, ia bisa juga menjadi tawa getir seperti pada “Kewargamanggaan”. Penulis, yang mengambil latar pengalaman kehidupan sebagai seorang Tionghoa di Indonesia, mampu dengan baik memotret singkapan-singkapan luka yang termanifestasi dalam berbagai bentuk ini. Cerita ini menunjukkan bahwa luka itu kompleks, dan bahkan bisa menjadi elemen kebahagiaan yang dikonstruksi tokoh-tokohnya. Buku ini memberikan sebuah pengingat bahwa luka dan bahagia adalah dua entitas yang saling berkelindan. Ada luka dalam bahagia dan ada bahagia yang terbuat dari serpihan-serpihan luka. Buku ini tidak sedang ingin memisahkan keduanya dengan kaku. Ia memeluk kedua realitas yang paradoks ini sebagai sebuah kesatuan penting.

Pengalaman menjadi minoritas ini membuat para minoritas dapat tumbuh dengan lebih dewasa. Pengalaman menjadi minoritas dan kejadian-kejadian manis maupun pahit membantu kita menangani peristiwa-peristiwa keseharian dengan lebih santai. Pelaku-pelaku utama dalam buku ini menunjukkan bahwa tekanan-tekanan kehidupan ini dapat diatasi melalui kolaborasi dengan orang-orang terdekat (Yulianto, 2022). Kasih sayang dan pemahaman lintas budaya memungkinkan kita dapat memahami perbedaan-perbedaan yang kita miliki (Yulianto et al., 2022b). Snippet pengalaman dalam buku ini juga menunjukkan kemampuan untuk mengatasi perbedaan-perbedaan ini dengan santai, meskipun tetap serius dalam aspek-aspek lainnya.

Jika kita kemudian sepakat bahwa luka dan bahagia adalah dua sisi yang saling berkelindan, apakah jangan- jangan cara terbaik untuk menavigasikannya memang juga membutuhkan strategi yang memiliki kelindan juga? Jika luka dan bahagia adalah dua sahabat yang tidak terpisah, apakah kita juga boleh memaknai bahwa menjadi minoritas adalah pengalaman yang serius, tetapi perlu disikapi dengan santai? Apakah pengalaman-pengalaman sebagai minoritas perlu dibiasakan untuk dijalani dengan santai, meskipun ia memiliki elemen yang membuat kita tidak bisa santai? Apakah pengalaman menjadi minoritas memang adalah rumah bagi paradoks-paradoks ini?

Memaknai Pengalaman dengan Santai dan Serius
Naskah-naskah Agnes Christina mengajak kita untuk menyelami kehidupan minoritas dengan santai tetapi serius. Pengalaman-pengalaman dalam naskah-naskah teatrikal ini adalah kisah nyata yang sehari-hari dialami oleh Tionghoa. Namun demikian, kisah-kisah ini bukanlah sekadar naskah teatrikal. Ia adalah akumulasi dari pengalaman yang kompleks dan membutuhkan pemahaman komprehensif tentang isu sosial, politik, sejarah, psikologis, dan kebudayaan. Namun demikian, Agnes Christina sebenarnya juga ingin agar pengalaman-pengalaman ini berani untuk dimunculkan dalam kehidupan sehari-hari, menjadi bagian dari percakapan sehari-hari, diperdebatkan dalam ruang-ruang akademis maupun warung-warung kopi, dengan santai. Agnes Christina ingin agar masyarakat memiliki kesadaran multikultural bahwa kita memiliki pengalaman dan trauma lintas generasi yang berbeda, tetapi di waktu yang sama ingin menciptakan ruang publik yang lebih bersahabat dan aman untuk membicarakan pengalaman-pengalaman ini.

Buku ini adalah sebuah hadiah bagi masyarakat Indonesia untuk mengingatkan bahwa keragamanlah yang membuat Indonesia adalah Indonesia. Tanpa keragaman, tidak ada Bhinneka Tunggal Ika, tidak ada Pancasila, dan tidak ada Sumpah Pemuda. Keragaman adalah identitas nasional kita. Identitas nasional sebagai Indonesia ini adalah identitas yang cair dan terus menjadi. Ia masih sedang terus dibentuk dan semakin mengkristal dari cara kita menghargai orang lain, tidak peduli apa etnis maupun agamanya. Semoga Anda menikmati cerita-cerita yang telah tersaji. Selamat menjadi Indonesia. ◆

Referensi
Ananta, A., Arifin, E. N., Hasbullah, M. S., Handayani, N. B., & Pramono, A. (2015). Demography of Indonesia’s ethnicity. Institute of Southeast Asian Studies.

Arifin, E. N., Ananta, A., Utami, D. R. W. W., Handayani, N. B., & Pramono, A. (2015). Quantifying Indonesia’s ethnic diversity. Asian Population Studies, 11(3), 233-256. https://doi.org/10.1080/17441730.2015.1090692

Christensen, J. (2012). Telling stories: Exploring research storytelling as a meaningful approach to knowledge mobilization with Indigenous research collaborators and diverse audiences in community-based participatory research. The Canadian Geographer/Le Géographe canadien, 56(2), 231-242. https://doi.org/10.1111/j.1541-0064.2012.00417.x

Marching, S. T. (2007). The Mass Rape of the ethnic Chinese in May 1998 and the War on Terror. Pacific News, 27, 18-21.

Rappaport, J. (2000). Community narratives: Tales of terror and joy. American Journal of Community Psychology, 28(1), 1-23. https://doi.org/10.1023/A:1005161528817

Yulianto, J. E. (2022). The everyday conduct of inter-ethnic marriages in Indonesia: participants navigating points of tension and cultivating harmony through adaptive socio-cultural practices: a thesis presented in partial fulfilment of the requirements for the degree of Doctor of Philosophy in Psychology at Massey University, Albany, New Zealand. Massey University.

Yulianto, J. E., Hodgetts, D., King, P., & Liu, J. H. (2022a). The assemblage of inter-ethnic marriages in Indonesia. Journal of Community & Applied Social Psychology, 32(4), 706-720. https://doi.org/10.1002/casp.2587

Yulianto, J. E., Hodgetts, D., King, P., & Liu, J. H. (2022b). Money, memory objects and material practices in the everyday conduct of inter-ethnic marriages in Indonesia. Journal of Material Culture, 1-24. https://doi.org/10.1177/13591835221086862

Yulianto, J. E., Hodgetts, D., King, P., & Liu, J. H. (2022c). Navigating tensions in inter-ethnic marriages in Indonesia: Cultural, relational, spatial and material considerations. International Journal of Intercultural Relations, 86, 227-239. https://doi.org/10.1016/j.ijintrel.2021.12.008