Catatan tentang “Salome”
Robert Ross
Times, Kamis, 2 Maret 1893, hlm. 4
Oscar Wilde tentang Salome
Kepada editor Times.
Tuan, perhatian saya tertuju pada ulasan mengenai Salome yang telah diterbitkan di dalam kolom Anda minggu lalu. Tentu saja, opini-opini para kritikus Inggris mengenai sebuah karya berbahasa Prancis tidak menarik bagi saya. Saya menulis surat ini hanya untuk meminta Anda mengizinkan saya mengoreksi satu pernyataan keliru yang muncul dalam ulasan tersebut.
Fakta bahwa aktris tragedi terhebat yang ada sekarang ini, yang terhebat di panggung mana pun, telah melihat keindahan di dalam lakon saya sehingga dia sangat ingin menampilkannya, mengambil peran sebagai karakter pahlawan perempuan, memberikan pesona kepribadiannya pada seluruh puisi dan alunan suaranya yang seperti bunyi seruling pada prosa saya—ini tentu saja, dan akan selalu menjadi, sumber rasa bangga dan kebahagiaan bagi saya. Dan saya sangat menantikan untuk menyaksikan Madame Bernhardt memainkan lakon saya di Paris, pusat seni yang hidup, tempat lakon-lakon religi sering dipentaskan. Namun, lakon saya sama sekali tidak ditulis untuk aktris hebat ini. Saya tidak pernah menulis sebuah lakon untuk aktor atau aktris mana pun, dan saya tidak akan pernah melakukannya. Karya seperti itu adalah untuk para ahli dalam kesusastraan, bukan untuk seniman.
Hamba yang selalu setia pada Anda,
Oscar Wilde
Ketika Salome diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Lord Alfred Douglas, sang ilustrator—Aubrey Beardsley—pun memberikan kritik terhadap Wilde. Menemukan inspirasi untuk karya terbaiknya dalam sebuah lakon yang tidak pernah dia kagumi, dan karya seorang penulis yang sangat tidak dia sukai, adalah hal yang menarik. Tentu saja motif-motifnya dibuat dengan tangan sendiri, dan tidak pernah ada material yang lebih cocok untuk seni singgung (tangent art) yang aneh, seni yang tidak memiliki nilai-nilai taktil. Karikatur-karikatur lucu untuk karya Wilde yang muncul di halaman muka, “Kemunculan Herodias”, dan “Mata Herodes”, adalah karya-karya vraisemblance (mirip nyataan) dalam desain-desain indah tersebut. Kolofonnya adalah sebuah mahakarya sejati, juga sebuah kritik cerdas terhadap lakon itu.*
Saat produksi Salome oleh New Stage Club pada Mei 1905**, para kritikus drama kembali mengekspresikan diri dengan keras, menyuarakan penyesalan mereka bahwa lakon tersebut telah diseret dari ketidakjelasannya. Namun, drama yang kurang dikenal itu telah menjadi bagian dari kesusastraan Eropa dalam lima tahun terakhir. Lakon itu dipentaskan secara teratur atau berkala di Belanda, Swedia, Italia, Prancis, dan Rusia, dan telah diterjemahkan ke dalam semua bahasa Eropa, termasuk bahasa Ceko. Lakon itu merupakan bagian dari repertoar panggung Jerman, tempat dia lebih sering dipentaskan dibandingkan lakon mana pun karya penulis-penulis Inggris, kecuali Shakespeare. Mungkin disebabkan oleh apa yang saya sebut popularitasnya yang kabur di teater-teater Eropa kontinental, kritik-kritik yang saya maksud itu muncul tepat pada saat Dr. Strauss sedang mempersiapkan operanya yang luar biasa hebat. Dan sejak pementasan operanya di Dresden pada Desember 1905, para jurnalis dan koresponden musik Inggris selalu menyebut karya tersebut sebagai karya yang berdasarkan pada lakon karya Wilde. Hanya dengan cara itulah mereka bisa mengelakkan satu kebenaran yang tidak mengenakkan—sebuah pertentangan nyata terhadap keinginan-keinginan dan teori-teori mereka. Namun, musiknya telah disesuaikan dengan lirik yang sebenarnya berasal dari Salome yang diterjemahkan dengan mengagumkan oleh Madame Hedwig Lachmann. Liriknya tidak diubah menjadi omong kosong opera kebanyakan agar sesuai dengan lembar musik atau dengan keyakinan pribadi orang Inggris. Saya melihat para pengagum Dr. Strauss merasa sedikit malu bahwa guru besar mereka mendapatkan kesempatan melakukan komposisi*** dalam sebuah lakon yang telah lama mereka lupakan dan dalam kekacauan Aubrey Beardsley. Wilde sendiri, dalam suatu periode retorik, tampaknya telah memikirkan kemungkinan drama prosanya untuk sebuah tema musikal. Dalam De Profundis, dia mengatakan, “Bagian-bagian refrein dengan motif berulangnya membuat Salome sangat menyerupai sebuah karya musik, dan menyatukannya sebagai sebuah balada.”
Dia masih di dalam penjara pada 1896, saat Luigne Poë mementaskan lakon tersebut untuk pertama kalinya di Théâtre Libre di Paris, dengan Lina Muntz sebagai pemeran utama. Sebuah referensi yang sedikit menyedihkan tentang peristiwa ini muncul dalam sebuah surat yang ditulis Wilde untuk saya dari (penjara) Reading:
Tolong beri tahu dia betapa senangnya saya atas pementasan lakon saya, dan sampaikan terima kasih saya kepada Luigne Poë. Masih patut dianggap sebagai seorang seniman, dalam masa memalukan dan kecelaan ini, adalah sangat berarti bagi saya. Andai saja saya bisa merasakan lebih banyak kesenangan, tapi sepertinya semua emosi saya telah mati kecuali perasaan sedih dan putus asa. Namun, tolong beri tahu Luigne Poë bahwa saya dapat merasakan penghormatan yang telah dia berikan untuk saya. Dia adalah puisi itu sendiri. Tulislah surat balasan untuk saya, dan coba lihat apa yang dikatakan Lemaitre, Bauer, dan Sarcey tentang Salome.
Pertemanan personal menghalangi saya untuk memuji atau membela Salome, walaupun itu perlu dilakukan. Tidak ada ucapan saya yang akan menambah reputasi para pencelanya. Sumbernya jelas, yaitu Flaubert dan Maeterlinck, yang gaya khas dan orisinalnya adalah sebuah esai. Seorang kritikus, yang lebih saya hormati dibanding orang-orang sezamannya, mengatakan bahwa Salome hanyalah sebuah katalog; tapi sebuah katalog dapat menjadi sangat dramatik, seperti yang kita tahu saat pementasan di Christie’s; hanya sedikit lakon yang lebih menarik daripada pelelangan di King Street saat para bintang berperang untuk Sisera.
Tercatat bahwa Wilde mencampuradukkan Herodes Agung (Matius, ix. 1), Herodes Antipas (Matius, xiv. 3), dan Herodes Agrippa (Kisah para Rasul, xiii), tapi itu pencampuran yang disengaja karena dalam lakon-lakon misteri abad pertengahan Herodes dianggap sebagai sebuah golongan, bukan satu tokoh historis, dan kritik itu sama nilainya dengan kritik orang-orang yang dengan susah payah menunjukkan anakronisme di dalam desain-desain Beardsley. Sehubungan dengan plagiarisme yang dituduhkan terhadap Salome dan penulisnya, saya berani menyinggung ingatan pribadi.
Wilde pernah mengeluh kepada saya bahwa seseorang dalam sebuah novel terkenal telah mencuri gagasannya. Saya membela pelakunya dengan mengatakan bahwa Wilde sendiri adalah seorang pencuri kesusastraan yang tidak kenal takut. “Sahabatku,” ujarnya dengan penekanan yang diucapkan perlahan-lahan seperti yang biasa dia lakukan, “saat aku melihat setangkai tulip yang sangat besar dengan empat kelopak yang indah di taman milik seseorang, saya terdorong untuk menanam tulip besar dengan lima kelopak yang indah, tapi itu bukan alasan bagi seseorang untuk menanam tulip dengan hanya tiga kelopak.” Itulah Oscar Wilde.
Catatan:
* Semua ilustrasi karya Aubrey Beardsley untuk Salome disertakan dalam edisi bahasa Indonesia ini.—Penyunting.
** Pementasan yang lebih mutakhir dari Salome (1906), oleh Literary Theatre Club, kembali menimbulkan luapan kebencian dan kesalahan penyajian yang disengaja dari para kritikus drama, yang sebagian besar sangat ingin memamerkan ketidaktahuan mereka tentang panggung kontinental. Pementasan itu sangat luar biasa karena gaun-gaun dan tata rias yang indah, yang digarap oleh Charles Ricketts, dan pemeranan Herodes yang menakjubkan oleh Robert Farquharson. Wilde pernah berkata bahwa Salome adalah sebuah cermin di mana semua orang bisa melihat diri mereka sendiri. Seniman, seni; manusia bodoh, kebodohan; manusia cabul, kecabulan.
*** Dramaturgi.—Penyunting.