Catatan Penerbit
Salome, Oscar Wilde
Lakon satu babak karya Oscar Wilde ini memancing hujatan dan pujian sepanjang zaman. Di Inggris, lakon ini awalnya dilarang karena dianggap setengah biblikal dan setengah pornografi. Ia digambarkan sebagai karya yang aneh, tidak waras, dan menjijikkan. Wilde dituduh telah melecehkan simbol-simbol suci biblikal. Beberapa kritikus menilai karya ini sebagai tiruan dari karya-karya bertema serupa dari para penulis lain. Beberapa kritikus lain melihatnya bukan sebagai tiruan, melainkan adaptasi kreatif dan interpretasi inovatif. Ada pula yang memandangnya sebagai salah satu pelopor estetika modern transgresif yang antisipatif terhadap gerakan avant-garde. Para kritikus gender dan queer membaca adanya female gaze yang subversif dalam lakon ini, di mana figur Salome memandang dan memanfaatkan kekuatan seksualnya untuk tujuan politis melalui kekerasan estetik. Elemen homoerotiknya juga dinilai sebagai isyarat perlawanan seksual Wilde. Di atas semua itu, sebagai hasil kerja intertekstual, lakon ini dianggap mencipta narasi inovatif yang meredefinisi genre tragedi simbolis Inggris.
Oscar Wilde menulis lakon ini dalam bahasa Prancis. Sayangnya, edisi bahasa Inggrisnya (sumber terjemahan edisi bahasa Indonesia ini) tidak mencantumkan nama penerjemahnya. Namun, beberapa sumber menyebut penerjemahnya adalah Lord Alfred Douglas atau dikenal sebagai Bosie Douglas, seorang penyair dan jurnalis Inggris, kekasih Oscar Wilde.
Tujuan utama penerbitan terjemahan Salome—dan lakon-lakon terjemahan lainnya—oleh Kalabuku adalah menyediakan sumber wacana dan pengetahuan, bukan menyajikan lakon yang siap-angkut ke panggung, terutama dalam konteks Indonesia. Untuk mementaskannya, sutradara dan/atau dramaturg disarankan untuk mengadaptasi, menyadur, menafsir, dan/atau menyuntingnya terlebih dahulu ke dalam konteks yang dicita-citakan pertunjukan.
Kalabuku